Ancaman Ledakan Penduduk diberlakukan bagi Negara Mayoritas Muslim

Banyak orang berpendapat bahwa ledakan pertumbuhan penduduk dapat menjadi ancaman bagi kesejahteraan suatu bangsa. Bahkan ada pernyataan ledakan penduduk sama dengan bom bunuh diri. Maksudnya adalah ledakan penduduk dipandang lebih berbahaya daripada ledakan bom teroris, karena menyentuh berbagai aspek seperti ekonomi, kesehatan, pendidikan dan sosial.  Mereka  berasumsi  bahwa  pertumbuhan penduduk dipandang sangat mengkhawatirkan  karena  tidak  sebanding  dengan  peningkatan  kesejahteraan  yang  serba  terbatas.

Secara historis, ketakutan ini berawal dari sebuah teori kontrol populasi yang dicetuskan oleh Thomas Robet Malthus (1798). Dia adalah seorang pemikir berkebangsaan Inggris yang saat itu diakui kepintarannya dalam bidang teologi dan ekonomi. Teori tersebut menyatakan bahwa “Jumlah penduduk dunia akan cenderung melebihi pertumbuhan produksi (barang dan jasa). Oleh karenanya, pengurangan ledakan penduduk merupakan suatu keharusan, yang dapat tercapai melalui bencana kerusakan lingkungan, kelaparan, perang atau pembatasan kelahiran.”

Upaya-upaya mengontrol jumlah populasi sebenarnya telah dilakukan pada era 60-an oleh para pemimpin Amerika dan Eropa. Sejak saat itu, ada beberapa negara yang menjadi pengikut program ini. Jika ditelusuri, hampir semua program ini berlaku penuh di negara-negara Muslim. Program-program pembatasan jumlah penduduk banyak dicanangkan di negara-negara yang mayoritas penduduknya adalah penganut Agama Islam. Tentunya hal ini dilakukan mereka untuk menghancurkan Islam dan Kaum Muslim.

Ledakan penduduk sebenarnya  adalah  mitos  yang  dihembuskan oleh negara-negara barat kepada negara-negara berkembang (negara-negara Muslim) seperti Indonesia. Tentu saja, mereka tahu betul bagaimana caranya menghancurkan Islam dan Kaum Muslim. Jika dengan senjata, mereka merasa kesulitan, mungkin dengan cara perang pemikiran adalah cara halus yang jauh lebih efektif. Maka dimunculkanlah slogan yang tertuju pada anjuran untuk mengurangi populasi penduduk.

Hal yang paling mencengangkan adalah terkuaknya beberapa dokumen Amerika Serikat pada tahun 1991. Pada kasus tersebut, Amerika ini telah menyatakan sikapnya terhadap umat Islam. Salah satu dokumen yang ditemukan adalah ’National Security Study Memorandum 200 1974 (NSSM,200). Terbukti dari dokumen-dokumen tersebut atas permintaan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (saat itu) Henry Kissinger yang menyatakan pandangan Amerika bahwa ancaman bagi Negara Amerika adalah negara-negara ketiga, dalam hal ini adalah negara-negara Kaum Muslim. Mengenai soal kependudukan negara-negara ketiga ini, Amerika dengan tegas menyatakan bahwa negara-negara tersebut wajib menerapkan program pembatasan kelahiran. Jelasnya, negara-negara ketiga itu antara lain adalah Mesir, Pakistan, Turki, Nigeria, Irak, Palestina dan Indonesia. Terkait dengan beberapa dokumen lain yang telah diekspose pemerintah Amerika Serikat pada bulan Mei 1991, salah satunya adalah instruksi Presiden Amerika Serikat nomor 314 tertanggal 26 November 1985 yang ditujukan kepada berbagai lembaga khusus, agar segera menekan negeri-negeri tertentu untuk mengurangi pertumbuhan penduduknya.

Sebagai puncaknya, PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) yang tentunya banyak terpengaruh oleh kebijakan-kebijakan Amerika Serikat, mengadakan konferensi di Kairo Mesir pada tahun 1994. Konferensi tingkat internasional itu memiliki agenda pembahasan mengenai upaya atau cara kontrol dalam menghadapi fertilitas (kelahiran). Memang sempat terjadi sedikit perdebatan di antara negara-negara peserta, namun pada akhirnya mereka sepakat ‘memerangi’ ledakan penduduk. Salah satu upaya yang disepakati itu ialah penggunaan alat kontrasepsi, baik yang temporal seperti kondom, atau yang permanen seperti vasectomy (pemotongan saluran sperma bagi pria) dan tubectomy (pengikatan atau pemotongan saluran telur bagi wanita).

Bagaimanapun juga, teori Thomas Robet Malthus tentang ledakan penduduk yang menjadi akibat hancurnya ekonomi, adalah batil dan keliru besar. Karena, kemerosotan ekonomi, seperti kurangnya pangan dan jasa, diakibatkan karena ketidakadilan dan keserakahan segelintir manusia seperti penyelewengan distribusi pangan atau penimbunan yang dilakukan dengan skala besar. Sebagai bukti saja, 80 % barang dan jasa dunia, dinikmati oleh negara-negara kapitalis yang jumlah penduduknya hanya sekitar 25% penduduk dunia (Rudolf H. Strahm, Kemiskinan Dunia Ketiga: Menelaah Kegagalan Pembangunan di Negara Berkembang, Jakarta: Pustaka Cidesindo,1999).

Jadi, merosotnya ekonomi sama sekali tidak ada kaitannya dengan populasi manusia. Bumi ini bukanlah bumi yang miskin dari sumber daya alam, tetapi bumi yang miskin dari sumber daya manusia yang adil dan beradab. Sangat keliru jika memiliki anggapan bahwa sengsara dan sejahteranya manusia berdasarkan dari banyak atau sedikitnya jumlah manusia. Namun konspirasi tetaplah konspirasi. Adanya teori ledakan penduduk yang membahayakan ekonomi dunia, hanyalah sebuah ide awal untuk menghancurkan Umat Islam dari negara-negara sekuler. Semua itu berawal dari negara-negara Eropa dan Amerika atas dasar kebencian mereka terhadap Islam dan Kaum Muslim.

Dikutip dengan perubahan dari Opini Kompasiana oleh Nurina Purnama Sari

0 Responses to “Ancaman Ledakan Penduduk diberlakukan bagi Negara Mayoritas Muslim”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s





%d blogger menyukai ini: